Pertemuan Pertama
mungkin rasanya baru sebulan menikah itu senang sekali. berbunga-bunga sepanjang waktu, rasanya lupa kalau dunia ini bukan tempat kita saja. tapi yang saya mau utarakan disini, bukan tentang kisah bahagia saya, bukan juga tentang kisah sedih saya. tapi, rasa syukur teramat dalam.
tidak mungkin saya tidak bahagia, tidak bisa dibayangkan akan bertemu seseorang yang bisa menyembuhkan traumatic dari kisah masalalu. jika blog ini adalah tempat saya mencurahkan pikiran saya, biar blog ini menjadi cerita panjang yang akan saya ketik dan pengalaman yang pernah saya alami. jikalau jadi tempat untuk menyembuhkan atau bahkan menyemangati seseorang, biarkan saja. bukannya, kita harus sharing apapun yang sudah kita pernah kita tinggalkan dulu?
rasanya seperti bebas, saya ingat betul, tangis saya yang begitu sesak, seakan dunia ini sangat kejam, untuk seorang saya yang berusaha untuk di cintai, namun malah mendapat kisah pilu didalamnya. tapi itu dulu, setelah datang seorang yang sekarang akan mendampingi saya seumur hidupnya.
saya tidak paham, cara Tuhan itu sunggu ajaib. memberikan hal baik, tidak saya salah, sungguh baik ini secara cuma-cuma. benar ya, doa seorang yang benar patah hatinya, bisa disembuhkan sekejab, seperti kita berkedip saja.
saya bertemu dengan orang yang sabar, tidak hanya setelah mengikat janji ini saja, namun ketika awal pertemuan kita yang saya fikir agak aneh. jika hari itu, saya tidak ke kantor, jika saja hari itu saya tidak ke hero, jika saja hari itu, saya tidak membeli lidah buaya, jika saja hari itu saya mengatakan tidak. saya yakin tidak ada hari ini.
dengan pertanyaan malu-malu tapi salah kalimat bertanya, dia tanyakan ke saya, "mau dijemput ga?". dia tidak mengenal saya, begitupun saya, namun yah saya masih ingat betul bagaimana saya membalas pesan mu. "dijemput boleh, gak juga gapapa". iya dong? jadi perempuan, walaupun mau tapi harus tetap jual mahal.
anehnya, sore itu tidak ada keraguan, sore itu tidak ada perasaan cemas, namun rasanya senang, teramat senang, perasaan yang sudah lama tidak saya rasakan. jantung berdebar, padahal kamu adalah orang asing, benar-benar orang asing, yang saya kenal lewat media sosial, tapi bukan aplikasi dating ya!
pertemuan pertama kita di sebuah stasiun. iya kamu jemput saya dengan setelan, baju hitam semi panjang, rompi woll, celana merah, dan masker pink. dalam benak saya hanya, "seriusan dia gapake jaket? apa ga kedinginan ya?" iya tau si itu baru jam 6 sore, tapikan dari stasiun kerumah saya lumayan jauh, dari rumah saya kerumahnya dia, saya kurang tahu si.
kok saya berani udah ajak dia kerumah, padahal baru pertama kali? ets! sebelum itu saya ajak makan bakso langganan saya deket rumah, biar apa? biar saya bisa lihat seluruh wajahnya dia, saya harus tau dong! bagaimana wajah aslinya dia, ya walaupun beberapa kali pernah videocall, tapikan tetap saja rasanya aneh. beda kalau kita ngobrol langsung.
saya buru-buru turun dari motor, saya pesankan 2 mangkok bakso, saya tawari dia minum es teh manis. orangnya malu-malu, senyum-senyum tipis aja, ngomong seperlunya, beda banget sama yang ditelfon. malah hal ini bikin saya kaget! takut, penasaran dan jadi merasa pertemuan kali ini lucu.
ada hal yang lebih mengejutkannya lagi, iya dia anter saya sampai di depan rumah, betul-betul didepan rumah persis. biasa orang jawa suka basa-basi, saya tanyakan lah "mampir dulu", biasanya kan dibalas, "takut kemalaman atau yang lainnya". kali ini beda, dia langsung matikan motornya dan mengikuti saya masuk rumah, HAHAHAHA. sungguh berbeda.
sampai dirumah, yang benar saja! ditawari makan lagi. iya karena bukan saya yang nawari, namun orang tua saya, dan dari pengakuan dia ga enak nolak, makanya langsung ikut makan. padahal abis sepiring bakso komplit, perjalanan ga sampai 10 menit, makan lagi. laper kali ya? apa persediaan biar perut ga kosong selama perjalanan.
iya betul aja, di ajak makan sambil di ajak ngobrol sama kedua orang tua saya. HEHEHE saya belum kenal betul, dia udah di interogasi sama orang tua saya. gapapa dong? sekalian saja kenalin, toh sejauh saya komunikasi sama dia, oke oke saja, belum ada yang mencurigakan dan tidak terlihat ada niatan jahat lainnya.
obrolan sederhana itu, berakhir dengan lirikan ke jarum jam, yang sudah menunjukan jam 9 malam, mata sepet dia yang semakin dia tunjukan ke saya, saya berikan kode "udah malam, udah ngantuk ya? biasanya udah tidur jam segini, karna bangun selalu jam 4 subuh untuk siap-siap bekerja".
iya dia langsung bergegas pulang, terdengar suara motornya menjauh. hari itu, saya merasakan jatuh cinta lagi setelah sekian lama, benar-benar perasaan yang tidak bisa di bohongi, saya benar-benar jatuh hati, lewat tatapan dan caranya bertutur kata kepada orang tua.
doc: april 2020 | bakso aris
Comments
Post a Comment